Rabu, 2 Ogos 2017

Kisah Iskandar Zulkarnain





  Sumber : cinta rindu rasul


Dialah Raja Muslim yang sangat berkuasa namun soleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi bahagian barat sampai timur. Ia mendapat gelaran Iskandar "Zulkarnain". "Zul", ertinya "mempunyai", Qarnain, artinya "Dua Tanduk". Maksudnya, Iskandar yang mempunyai kuasa antara timur dan barat.

Dia juga telah membina dinding besar berteknologi tinggi untuk saiz saat itu , diantara dua Gunung . Para ahli sejarah meyakini , dinding tersebut diperbuat daripada besi yang dicampur dengan tembaga itu terletak tepat di pengunungan Kaukasus . Daerah itu kini disebut Georgia , negara pecahan Uni Soviet .

Secara topografis , deretan pegunungan Kaukasus itu memang terlihat memanjang dari laut Hitam sampai ke laut Kaspia sepanjang 1,200 kilometer tanpa celah . Kecuali pada bahagian kecil sempit yang disebut celah Darial sepanjang 100 Meter kurang lebih . Pada bahagian celah itulah Zulkarnain membina tembok penghalang dari Ya'juj dan Ma'juj .

Kisah ketokohan Iskandar Zulkarnain ini juga tertulis dalam catatan sejarah orang - orang barat . Dalam catatan tersebut diceritakan bagaimana ia berjaya meluaskan daerah taklukannya dalam masa yang sangat singkat . Oleh kerana kejayaannya ini , ia diberi gelar " Alexander The Great " , Alexander Yang Agung " . Belakangan cerita ini diadaptasi ke filem skrin lebar oleh Pengarah Amerika Syarikat , Oliver Stone , dengan judul Alexander The Great .

Namun cerita dari orang - orang barat tersebut sangat bertentangan dengan yang disebutkan dalam Al - Qur'an . Para Mufasir menyatakan , " Alexander The Great " adalah orang yang berbeza dengan tokoh yang di tulis dalam Al - Qur'an , Yakni , Iskandar Zulkarnain . Alexander Thr Great itu dalam sejarahnya tidak diberitakan pernah membina sebuah dinding besar berteknologi tinggi untuk saiz saat itu , yang dibuat dari besi bercampur tembaga . Bahkan , ia adalah seorang musyrik . Sejarah tidak mencatatnya sebagai seorang Raja Muslim yang taat kepada agama Tauhid .

Sejarawan Muslim yang juga ahli tafsir , Ibnu Katsir , dalam kitabnya Al - Bidayah Wan Nihayah menjelaskan , meski punya nama yang sama dan plot cerita yang sama , iaitu kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur , kedua-duanya adalah sosok yang berbeza . Antara mereka terbentang jarak dan waktu sampai 2000 tahun . " Hanya mereka yang tidak memahami sejarah yang boleh diperbodohkan oleh identiti kedua orang itu , " katanya .

Ibnu Kathir lebih jauh menjelaskan , Zulkarnain adalah nama gelar atau nama samaran seorang panglima penakluk sekaligus Raja soleh . Kerana kesalehannya ia selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah . Namun mereka ingkar , malah memukul tanduknya - Qarnun , yaitu rambut kepala yang di ikat - sebelah kanan , hingga ia mati . Lalu Allah menghidupkannya kembali , dan ia pun kembali berdakwah . Tetapi sekali lagi tanduknya yang kiri dipukul , sehingga ia mati lagi . Allah SWT menghidupkan kembali dan menggelarnya Zulkarnain , pemilik duaTanduk , serta memberinya kuasa .

Cerita yang sama juga di jumpai dalam kitab Jami Al - Bayan fi Tafsir Al - Qur'an , karangan Syeikh Al - Aiji Asy - Syafi'i . Dalam kitab tersebut disebutkan , Zulkarnain adalah seorang hamba yang taat kepada Allah dan mengajak kaumnya menyembah Allah . Lalu mereka memukul tanduknya yang kanan hingga mati . Kemudian Allah menghidupkannya lagi , dan dia kembali mengajak kaumnya mengesakan Allah . Tetapi mereka malah memukul tanduknya yang kiri hingga mati lagi . Lalu Allah menghidupkannya lagi dan menganugrahinya kuasa yang tak tertandingi . Oleh kerana itu ia digelar Zulkarnain .

Di samping kedua kitab tersebut , Mufassir Muslim Ibnu Jarir At-Tabari juga mengisahkannya dalam kitab tafsir Ath - Thabari . Dikatakan , Iskandar Zulkarnain adalah seorang laki - laki yang berasal dari Romawi , ia anak tunggal seorang yang paling miskin di antara penduduk bandar . Namun dalam pergaulan sehari - hari , ia hidup dalam lingkungan kerajaan , bergaul dengan para perwira dan berkawan dengan wanita - wanita yang baik dan berbudi serta berakhlak mulia .

Imam Al - Qurtubi dalam kitab tafsir Al - Qur'annya yang popular , Tafsir Al - Qurtubi , menceritakan , sejak masih kecil dan masa pertumbuhannya Iskandar berakhlak mulia . Melakukan hal - hal yang baik sehingga terangkat nama baiknya . Ia juga menjadi mulia di kalangan kaumnya , sehingga Allah berkenan memberinya kewibawaan .

Selepas mencapai usia akil baligh , Iskandar menjadi seorang hamba yang soleh , sehingga Allah berfirman , " Wahai Zulkarnain , Sesungguhnya aku mengutusmu kepada umat - umat di bumi . Mereka adalah umat yang berbeza - beza bahasanya dan mereka adalah umat yang berada disegala penjuru bumi . Mereka terbahagi dalam beberapa golongan . "

Mendapat amanat tersebut , Zulkarnain lalu berkata , " Wahai Tuhanku , Engkau telah menugasiku melakukan seuatu perkara yang aku tidak kuasa melakukannya kecuali engkau sendiri , maka beritahukan kepadaku tentang umat - umat itu , dengan kekuatan apa aku boleh melawan mereka ? Dengan kesabaran apa aku boleh menahan mereka ? Dan dengan bahasa apa aku harus bicara dengan mereka ? Bagaimana pula aku boleh memahami bahasa mereka sedangkan aku tidak mempunyai kemampuan . "

Kemudian Allah SWT berfirman " Aku membebanimu sesuatu yang kamu mampu melakukannya , aku akan melapangkan pendengaran dan dadamu hingga kamu boleh mendengar dan memperhatikan segala sesuatu . Memudahkan pemahamanmu sehingga kamu boleh memahami segala sesuatu , meudahkan lidahmu , hingga kamu boleh bercakap tentang sesuatu , membukakan penglihatanmu , sehingga kamu boleh melihat segala sesuatu , melipatgandakan kekuatanmu hingga tak terkalahkan oleh sesuatu apapun , menyingsingkan tangan kamu , sehingga tidak ada sesuatu pun yang berani meyerangmu , menguatkan hatimu , sehingga kamu tidak takut pada apapun , menguatkan kedua tanganmu hingga kamu boleh menguasai segala sesuatu , menguatkan pijakanmu hingga kamu boleh mengatasi segala sesuatu , memberi kemuliaan hingga tidak ada apa-apa yang menakutimu , menundukkan untukmu cahaya dan kegelapan dan menjadikan salah satu tentaramu . Cahaya itu akan menjadi petunjuk di depanmu , dan kegelapan itu akan berkeliling di belakangmu .

Sejak kecil , Iskandar sudah tidak senang melihat peperangan antara timur , yaitu kerajaan Parsi , dan Barat , Kerajaan Romawi . Perang itu tak ada henti dari tahun ke tahun , malah dari abad ke abad . Ribuan manusia tewas , kerugian harta benda tak terhitung lagi jumlahnya , apalagi kerosakan lingkungan hidup , merugikan manusia itu sendiri .

Untuk menghentikan permusuhan antara timur dan barat , Iskandar bercita - cita mendirikan sebuah kerajaan yang dapat menyatukan wilayah timur dan barat .
Iskandar pun tumbuh menjadi manusia dewasa yang soleh , berakhlak dan berbudi tinggi . Atas segala kesalehannya itu , Allah mengaruniakan kepadanya segala kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemimpin , lalu Allah memerintahkan untuk menyeru manusia kepada agama tauhid .

Mula - mula dengan tentaranya yang lengkap dan kuat , dia menuju ke barat wilaya Maghribi , tempat terbenamnya matahari . Dilihatnya matahari itu terbenam di mata air yang berlumpur , lautan Atlantik sekarang ini .

Di situ ia bertemu dengan bangsa yang senantiasa berbuat kerosakan dan kejahatan . Bukan saja merosakkan permukaan bumi dan mengacaukannya , tetapi juga sudah menjadi tabiat mereka suka membunuh orang - orang yang tidak bersalah sekalipun . Bahkan mereka tidak beragama .

Sebelum melakukan tindakan , terlebih dahulu Iskandar menadahkan tangannya ke langit , memohon petunjuk kepada Allah , tindakan apa sebaiknya yang harus dilakukan terhadap bangsa yang begitu kejam , apakah bangsa itu akan digempurnya habis - habisan , atau akan dibiarkan begitu sahaja ?

Allah lalu memberinya dua pilihan : digempur habis - habisan sebagai balasan atas kekejaman mereka , atau di ajar dan didik agar mereka kembali kepada kebenaran dan menyembah Allah serta meninggalkan segala kejahatan .

Iskandar Zulkarnain memutuskan menggempur mereka yang derhaka dan jahat , sedangkan orang yang baik akan dilindungi . Sebelumnya ia berkata kepada bangsa tersebut , " Siapa yang aniaya , akan kami siksa dan dikembalikan kepada Tuhan , agar Tuhan memberikan siksa yang lebih pedih lagi . Adapun orang - orang yang soleh dan baik , akan kami lindungi , dan kepadanya kami hanya akan memerintahkan kewajiban - kewajiban yang ringan . "

Kemudian tenteranya bergerak menewaskan setiap orang yang kejam , melindungi setiap orang yang baik . Akhirnya negeri itu dapat diamankan dan di tentramkan serta di atur sebaik - sebaiknya , penuh dengan kehidupan bahagia dan makmur ,
Setelah selesai menunaikan kewajiban terhadap bangsa dan negeri itu , Iskandar dengan tentaranya menuju ke arah timur , India . Dilihatnya matahari di atas bangsa yang musyrik , yang menyembah banyak tuhan , yaitu bangsa Hindustan .

Bangsa dan negeri itu pun dapat ditaklukkan , diamankan dan ditentramkannya , serta diatur sebaik - baiknya sehingga setiap orang dapat merasakan hidup aman , tenteram dan bahagia . Bangsa itu juga dapat dikeluarkan dari lembah kesesatan .

Selesailah sudah kewajibannya terhadap bangsa dan negeri itu . Ia lalu menuju ke utara , negeri Armenia , melalui Parsi dan Azarbaijan . Kemenangan demi kemenangan dicapainya selama dalam perjalanan itu , akhirnya sampailah di suatu tempat , di sana ia bertemu dengan suatu bangsa yang selalu dalam ketakutan dan ke khawatiran , kerana ternyata negeri itu berbatasan dengan bangsa Ya'juj dan Ma'juj yang terkenal kuat dan kejam . Bukan sekali dua kali saja , tetapi seringkali bangsa Ya'juj dan Ma ; juj itu datang menyerang mereka , menghancurkan apa saja yang didapatinya dan membunuh siapa saja yang dijumpainya .

Kedatangan Iskandar ini , mereka sambut dengan segala kehormatan dan kegembiraan , kerana mereka tahu dari kabar yang beredar bahawa Iskandar adalah Raja yang kuat dan paling adil di muka bumi ini .

Lalu mereka meminta bantuan kepada Iskandar , agar dilindungi dari serangan Ya'juj dan Ma'juj . Mereka memohon supaya antara negeri mereka dan negeri Ya'juj dan Ma'juj dibangun dinding raksasa yang tidak dapat ditembusi . Sebagai balasan mereka sanggup membayar mahal Iskandar .

    Mendengar permohonan itu , Iskandar Zulkarnain menjawab , " Saya tidak mengharapkan upah dari kalian , nikmat dan pemberian Tuhanku lebih berharga daripada upah itu . Hanya kepada kalian saya minta kaum pekerja dan alat - alatnya : besi , tembaga , arang batu dan kayu . "

Setelah semuanya terkumpul , ia mula bekerja dengan bantuan para pekerja . Mula - mula menyalakan api dengan kayu dan arang batu , diambilnya besi , lalu dileburkannya dengan api , selepas besi itu cair , dituangkannya tembaga , dan dikacau menjadi satu . Dengan bahan campuran inilah di dirikan dinding raksasa antara negeri itu dan negeri Ya'juj dan Ma'juj . Dinding besi raksasa itu tidak dapat di tembus dan di lubangi oleh sesiapa dan oleh apapun .

    " Dinding ini adalah rahmat dari Tuhan kepada kalian , hanya tuhanlah yang dapat menembus dinding ini , jika dikehendakinya , " kata Iskandar . Maka aman dan tentramlah negeri tersebut .

Iskandar Zulkarnain dapat menaklukkan negeri - negeri yang terbentang antara timur dan barat . Dengan demikian cita - citanya untuk menyatukan kerajaan di timur dan barat tercapai . Negeri yang berada di bawah kekuasaannya , antara lain Maghribi , Rom , Yunani , Mesir , Parsi dan India.

Berkat ilmu dan pengetahuannya yang luas , serta dasar ketuhanan yang selalu dipagang teguh dalam mendirikan kerajaan yang besar itu . Penduduknya hidup dengan aman , tentrem dan makmur . Kebesaran dan kejayaan itu tidak membuatnya buta dan lupa akan nikmat yang diberikan Allah SWT .

Menurut Khair Ramdhan Yusuf , dalam bukunya Iskandar Zulkarnain , Panglima Perang , penakluk dan pemerintah yang saleh , kajian terperinci menurut Al - Qur'an , Sunah dan Sejarah , terbitan Malaysia , ada empat sosok yang berkaitan dengan nama Iskandar Zulkarnain . Yaitu , Iskandar Macedonia , Zulkarnain Al - Hamiri , Raja Himyar , seorang lelaki soleh pada zaman Nabi Ibrahim , dan Kursh Al - Akhmini Al - Farisi .

Walaupun begitu kita dapat membaca dengan jelas kisah Iskandar Zulkarnain ini dalam Al - Qur'an Surah Al - Kahfi ayat 83 hingga 98 , yang bermaksud , " Mereka akan bertanya kepadamu Muhammad , tentang Zulkarnain . Katakanlah , " Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya . "
" Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi , dan kami telah menberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu , maka ia pun menempuh jalan tersebut . Hingga apabila telah sampai ke tempat terbenamnya matahari , ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam , dan ia mendapatinya di situ segolongan umat " .

    Kami berkata , " Hai Zulkarnain kamu boleh menyiksa atau berbuat kebaikan terhadap mereka . "
Berkata Zulkarnain , " Adapun orang yang aniaya , kami kelak akan mengazabnya , kemudian ia kembali kepada Tuhannya , lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya . Adapun orang yang beriman dan beramal soleh , baginya pahala yang terbaik sebagai balasan , dan akan kami titahkan kepadanya yang mudah dari perintah - perintah kami . "

Kemudian ia menempuh jalan lagi , hingga apabila telah sampai ke tempat terbitnya matahari ia mendapati matahari yang menyinari segolongan umat yang kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari matahari itu . "

Demikianlah , dan sesungguhnya ilmu kami meliputi segala apa yang ada padanya , Zulkarnain . Kemudian ia menempuh suatu jalan lagi , sehingga apabila telah sampai di antara dua buah gunung ia mendapati kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan .

Mereka berkata , " Hai , Zulkarnain sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang - orang yang membuat kerosakan di muka bumi , maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu , supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ? "

Zulkarnain berkata , " apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku adalah lebih baik , maka tolonglah aku dengan kekuatan agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka , berilah aku potongan - potongan besi . "

Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua gunung itu , berkatalah Zulkarnain ," Tiuplah dan katika besi itu sudah menjadi api , ia pun berkata , berilah aku tembaga untuk aku tuangkan ke atas besi panas itu . "

Maka mereka , Ya'juj dan Ma'juj tidak dapat memanjat tembok itu , dan mereka tidak boleh melubanginya .

Zulkarnain berkata , " Ini adalah rahmat dari Tuhanku . Maka apabila sudah datang janji Tuhanku , dia akan menjadikannya hancur luluh , dan janji Tuhanku itu adalah benar . "

Sungguhpun kuasa dan keperkasaannya tak tertandingi , akhlak dan hatinya selembut sutera , hingga karenanya ia mudah menyerap bukti kebenaran Ilahi . Imam Al - Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin , menceritakan , suatu ketika Iskandar Zulkarnain mendatangi suatu kaum yang tidak mempunyai harta benda apapun yang boleh di nikmati . Lalu ia menghantar surat kepada Raja mereka dan berpesan agar Raja bersedia membalas suratnya .

Namun Raja itu menolak permintaan Zulkarnain , malah sebaliknya , ia berkata , jika Zulkarnain merasa ada kepentingan dengannya , sebaiknya dialah yang datang menemuinya .

    Maka Zulkarnain pun pergi menemui Raja mareka , " Aku telah menghantar surat kepadamu dan memintamu datang kepadaku , tetapi kamu menolak , maka aku datang kepadamu , " kata Zulkarnain setelah sampai di istana Raja .

    Sang Raja pun berkata , " Seandainya aku memerlukanmu , aku pasti akan datang kepadamu . "
Sebagaimana jika aku melihatmu berada dalam suatu keadaan yang tak pernah dialami oleh sesiapa ? " Tanya Zulkarnain .

" Apa itu ? " Sang Raja balik bertanya . " Kalian tidak memiliki harta dunia apapun . Kenapa kalian tidak mempunyai emas dan perak hingga kalian boleh menikmatinya ? " Balas Zulkarnain .
" Tetapi kami membenci dua hal tersebut , kerana seorang tidak mendapat apa-apa dari emas dan perak itu , kecuali hanya mahu lebih dari itu , " jawab raja itu dengan tangkas .

Zulkarnain melanjutkan pertanyaannya , " Apa maksud kalian menggali kuburan lalu setelah itu kalian menjaganya , membersihkannya , dan sembahyang di sana ? "

Raja itu kembali menjawab , " Kami ingin , jika kami memandang kuburan - kuburan itu dan mengharapkan dunia , kubur - kubur itu akan menghalang kami dari harapan itu . "
Zulkarnain bertanya lagi , " Aku melihat kalian tidak mempunyai makanan kecuali sayur sayuran , kenapa kalian tidak mempunyai haiwan ternakan , hingga kalian dapat memerah susunya , menungganginya dan menikmatinya ? "

Mereka menjawab , " Kami tidak suka menjadikan perut kami sebagai kuburan bagi binatang itu . Dan kami melihat di dalam tumbuh - tumbuhan itu faedah yang besar . Cukuplah anak adam mempunyai kehidupan yang rendah kerana makanan . Dan makanan apa saja yang melewati rahang bawah kami rasanya sama saja seperti makanan yang pernah kami makan sebelumnya . "
Selepas Zulkarnain meninggalkan raja itu dengan kagum dan menjadikan penjelasannya sebagai sebuah nasihat yang berharga .

Dalam setiap perjalananya, Zulkarnain selalu memperlakukan bangsa dan suku yang ditaklukkannya dengan amat baik dan santun . Tak menghairankan jika ia menuai kejayaan dan selalu mendapatkan sokongan dari kawasan yang telah di kuasainya.

Selain itu , Zulkarnain juga didampingi seorang penasihat kerajaan yang baik dan sangat luas pengetahuannya , yang tiada lain adalah Nabi Khidir AS .

Sebahagian ulama menyebut , Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Khidir AS , lalu mengajarkan Wahyu tersebut kepada Zulkarnain .

Seorang mufassir lain , Al - Alusi , dalam kitab tafsirnya Ruhul Ma'ani , berkata , " Mungkin Khidir adalah salah satu pembesar kerajaan , seperti perdana mentrinya , kerana tidak tertutup kemungkinan bahawa Zulkarnain bermusyawarah dengan orang lain saat menghadapi suatu masalah . Sebab pada saat itu , istilah yang dikenal untuk menyebut orang pandai , termasuk Nabi , adalah " Ahli Hikmah " . selain itu , pada masa - masa dahulu , para Nabi juga sering disebut dengan istilah " Orang bijak , " atau " Hakim " .

Wahab bin Munabbah dalam kitabnya At - Tijan mengisahkan , pada suatu ketika Nabi Khidir AS berkata kepada Zulkarnain , Wahai Tuanku , tuan membawa suatu amanat yang seandainya diberikan kepada langit , langit itu akan runtuh , jika diberikan kepada Gunung , maka Gunung itu akan roboh , dan jika diberikan kepada bumi , maka bumi itu akan terbelah . Tuanku telah diberi kesabaran dan kemenangan . Tuanku akan melihat suatu kaum yang menyembah sesama manusia dan mereka adalah musuh - musuh Allah , yaitu Ya'juj dan Ma'juj . Allah adalah penuntut tidak akan terkelabui oleh orang - orang yang melarikan diri , dan tidak akan dikalahkan oleh orang yang " Menang " .

    Kata Nabi Khidir lagi , " Wahai tuanku , ambillah apa yang telah diberikan Allah SWT kepada tuan dengan keteguhan hati dan sungguh - sungguh . Jadikanlah kesabaran sebagai pakaian , kebenaran sebagai pegangan hidup , dan takut kepada Allah sebagai perlindungan yang menumbuhkan amal pada tuan , dan tuan akan tenang dari ketakutan akan datangnya ajal . 

Ambillah pedang Allah dengan tangan tuan , kerana tidak ada orang yang dapat menolong dan tidak ada orang yang dapat mencegah kemenangan . Cukuplah bagi tuan , Allah sebagai penolong tuan . "
Dalam Almuhadlarah al - Awali , kitab yang dikutip Ibnu Katsir , disebutkan , suatu ketika Nabi Ibrahim AS bertemu dengan Zulkarnain di Mekah . Nabi Ibrahim Memeluk dan menjabat tangan Zulkarnain serta memberinya bendera . Lalu ia mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi itu dan menyeru kepada manusia agar berpegang teguh pada syariat tersebut .

Hal ini dikuatkan kembali oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat Nabi SAW , Ubaid bin Umair dan anaknya , Abdullah , yang menyatakan , selama masa jayanya , Iskandar Zulkarnain pernah melaksanakan haji dengan berjalan kaki . ketika Nabi Ibrahim mendengar berita tersebut , beliau menemuinya seraya menyeru kepada agama Tauhid dan memberikan beberapa nasihat . Nabi Ibrahim juga membawakan Zulkarnain seekor kuda agar dinaikinya . Akan tetapi Zulkarnain menolak , seraya berkata , " Saya tidak akan menaiki suatu kenderaan di suatu tempat yang di dalamnya ada Ibrahim Al - Khalil , yang dikasihi Allah.

Jumaat, 21 Julai 2017

Strategi Dakwah Nabi Di Madinah

Sumber : bacaanmadani.com Pokok-pokok pikiran yang dijadikan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah adalah : 1. Berdakwah dimulai dan diri sendiri, maksudnya sebelum mengajak orang lain meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya, maka terlebih dahulu orang yang berdakwah itu harus meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya. 2. Cara (metode) melaksanakan dakwah sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam Surah An-Nahl, 16: 125. 3. Berdakwah itu hukumnya wajib bagi Rasulullah SAW dan umatnya. Dalil wajibnya: Al-Qur’an Surah Ali ‘Imrãn, 3: 104, dan Hadis Rasulullah SAW: Artinya: “Sampaikanlah, apa yang berasal dariku (tentang Islam), walaupun hanya satu ayat.“ (HR. Bukhari) 4. Berdakwah dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah SWT semata, bukan dengan niat untuk memperoleh popularitas dan keuntungan yang bersifat materi. Umat Islam dalam melaksanakan tugas dakwahnya, selain harus menerapkan pokok-pokok pikiran yang dijadikan sebagai strategi dakwah Rasulullah SAW, juga hendaknya meneladani strategi Rasulullah SAW dalam membentuk masyarakat Islam atau masyarakat madani di Madinah. Masyarakat Islam atau masyarakat madani adalah masyarakat yang menerapkan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupan sehingga terwujud kehidupan bermasyarakat yang baldatun tayyibatun wa rabbun gafur, yakni masyarakat yang baik, aman, tenteram, damai, adil, dan makmur di bawah naungan rida Allah SWT dan ampunan-Nya. Usaha-usaha Rasulullah SAW dalam mewujudkan masyarakat Islam seperti tersebut adalah : 1. Membangun Masjid Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah ialah Masjid Quba, yang berjarak ± 5 km, sebelah barat daya Madinah. Masjid Quba ini dibangun pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijrah (20 September 622 M). Setelah Rasulullah SAW menetap di Madinah, pada setiap hari Sabtu, beliau mengunjungi Masjid Quba untuk salat berjamaah dan menyampaikan dakwah Islam. Masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya ada Masjid Nabawi di Madinah. Masjid ini dibangun secara gotong royong oleh kaum: Muhajirin dan Anshor, yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan peletakan batu kedua, ketiga, keempat, dan kelima dilaksanakan oleh para sahabat terkemuka yakni : Abu Bakar r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan Ali bin Abu Thalib. Mengenai fungsi atau peranan masjid pada masa Rasulullah SAW adalah sebagai berikut : • Masjid sebagai sarana pembinaan umat Islam di bidang akidah, ibadah, dan akhlak. • Masjid merupakan sarana ibadah, khususnya salat lima waktu, salat Jumat Tarawih, salat Idul Fitri, dan Idul Adha. (Lihat Q.S. Al-Jinn, 72 : 18 !). • Masjid merupakan tempat belajar dan mengajar tentang agama Islam bersumber kepada A1-Qur’an dan Hadis. • Menjadikan masjid sebagai sarana kegiatan sosial. Misalnya sebagai tempat penampungan zakat, infak, dan sedekah dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya, terutama para fakir miskin dan anak-anak yatim terlantar. • Masjid sebagai tempat pertemuan untuk menjalin hubungan persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islamiah) demi terwujudnya persatuan. • Menjadikan halaman masjid dengan memasang tenda, sebagai tempat pengobatan para penderita sakit, terutama para pejuang Islam yang menderita luka ikibat perang melawan orang-orang kafir. Sejarah mencatat adanya seorang perawat wanita terkenal pada masa Rasulullah SAW yang bernama “Rafidah”. • Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai tempat bermusyawarah dengan para sahahatnya. Masalah-masalah yang dimusyawarahkan antara lain ; usaha usaha untuk mengatasi kesulitan, usaha-usaha untuk memajukan umat Islam, dan strategi peperangan melawan musuh-musuh Islam agar memperoleh kemenangan, 2. Mempersaudarakan antara Kaum Muhajirin dan Ansar Muhajirin adalah para sahahat Rasulullah SAW penduduk Mekah yang berhijrah ke Madinah. Ansar adalah para sahabat Rasulullah SAW penduduk asli Madinah yang memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin. Rasulullah SAW bermusyawarah dengan Abu Bakar r.a. dan Umar bin Khattab r.a. mempersaudarakan antara Muhajirin dan Ansar, sehingga terwujud persatuan yang tangguh. Hasil musyawarah memutuskan agar setiap orang Muhajirin mencari dan mengangkat seorang dari kalangan Ansar menjadi saudaranya senasab (seketurunan), dengan niat ikhlas karena Allah SWT. Demikian juga sebaliknya orang Ansar. Rasulullah SAW memberi contoh dengan mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya. Apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dicontoh oleh seluruh sahahatnya misalnya : • Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasuluhlah SAW, pahlawan Islam yang pemberani bersaudara dengan Zaid bin Haritsah, mantan hamba sahaya, yang kemudian dijadikan anak angkat Rasulullah SAW. • Abu Bakar Ash-Shiddiq, bersaudara dengan Kharizah bin Zaid. • Umar bin Khattab bersaudara dengan Itban bin Malik Al Khazraji (Ansar). • Utsman bin Affan bersaudara dengan Aus bin Tsabit. • Abdurrahman bin Auf bersaudara dengan Sa’ad bin Rabi (Ansar). Demikianlah seterusnya setiap orang Muhajirin dan orang Ansar, termasuk Muhajirin setelah hijrahnya Rasulullah SAW dipersaudarakan secara sepasang-sepasang, layaknya seperti saudara senasab. Persaudaraan secara sepasang-sepasang seperti tersebut, ternyata membuahkan hasil sesama Muhajirin dan Ansar terjalin hubungan persaudaraan yang lebih baik. Mereka saling mencintai, saling menyayangi, hormat-menghormati, dan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Kaum Ansar dengan ikhlas memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin berupa tempat tinggal, sandang pangan, dan lain-lain yang diperlukan. Namun kaum Muhajirin juga tidak diam berpangku tangan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mencari nafkah agar dapat hidup mandiri. Misalnya Abdurrahman bin Auf menjadi pedagang, Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abu Thalib menjadi petani kurma. Kaum Muhajirin yang belum mempunyai tempat tinggal dan mata pencaharian oleh Rasulullah SAW ditempatkan di bagian Masjid Nabawi yang beratap yang disebut Suffa dan mereka dinamakan Ahlus Suffa (penghuni Suffa). Kebutuhan-kebutuhan mereka dicukupi oleh kaum Muhajirin dan Ansar secara bergotong-royong. Kegiatan Ahlus Suffa itu antara lain mempelajari dan menghafal Al-Qur’an dan Hadis, kemudian diajarkannya kepada yang lain. Sedangkan apabila terjadi perang antara kaum Muslimin dengan kaum kafir, mereka ikut berperang. 3. Perjanjian Bantu-Membantu antara Umat Islam dan Umat Non-Islam Pada waktu Rasulullah SAW menetap di Madinah, penduduknya terdiri dari tiga golongan, yaitu umat Islam, umat Yahudi (Bani Qainuqa, Bani Nazir dan Bani Quraizah), dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam. Rasulullah SAW membuat perjanjian dengan penduduk Madinah non-Islam dan tertuang dalam Piagam Madinah. Isi Piagam Madinah itu antara lain: a. Setiap golongan dari ketiga golongan penduduk Madinah memiliki hak pribadi, keagamaan dan politik. Sehubungan dengan itu setiap golongan penduduk Madinah berhak menjatuhkan hukuman kepada orang yang membuat kerusakan dan memberi keamanan kepada orang yang mematuhi peraturan. b. Setiap individu penduduk Madinah mendapat jaminan kebebebasan beragama. c. Seluruh penduduk Madinah yang terdiri dan kaum Muslimin, kaum Yahudi, dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam sesama mereka hendaknya saling membantu dalam bidang moril dan materil. Apabila madinah diserang musuh, maka seluruh penduduk Madinah harus bantu-membantu dalam mempertahankan kota Madinah. d. Rasulullah SAW adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah. Segala perkara dan perselisihan besar yang terjadi di Madinah harus diajukan kepada Rasulullah SAW untuk diadili sebagaimana mestinya 4. Meletakkan Dasar-dasar Politik, Ekonomi, dan Sosial yan Islami demi Terwujudnya Masyarakat Madani Islam tidak hanya mengajarkan bidang akidah dan ibadah, tetapi mengajarkan juga bidang politik, ekonomi, dan sosial, yang kesemuanya bersumber pada Al Qur’an dan Hadis. Pada masa Rasulullah, penduduk Madinah mayoritas sudah beragama Islam, sehingga masyarakat Islam sudah terbentuk, maka adanya pemerintahan Islam merupakan keharusan. Rasulullah SAW selain sebagai seorang nabi dan rasul, juga tampil sebagai seorang kepala negara (khalifah). Sebagai kepala negara, Rasulullah SAW telah meletakkan dasar bagi sistem politik islam, yakni musyawarah. Melalui musyawarah, umat Islam dapat mengangkat wakil-wakil rakyat dan kepala pemerintahan, serta membuat peraturan peraturan yang harus ditaati oleh seluruh rakyatnya. Dengan syarat, peraturan peraturan itu tidak menyimpang dan tuntunan Al-Qur’an dan Hadis (dalil naqlinya lihat QS. An-Nisã’, 4: 59). Dalam bidang ekonomi Rasulullah SAW telah meletakkan dasar bahwa system ekonomi Islam itu harus dapat menjamin terwujudnya keadilan sosial. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, Rasulullah SAW telah meletakkan dasar antara lain adanya persamaan derajat di antara semua individu, semua golongan, dan semua bangsa. Sesuatu yang membedakan derajat manusia ialah amal salehnya atau hidupnya yang bermanfaat (lihat Q.S. Al-Hujurat, 49: 13)

Bagaimana Membuat Orang Hormat Kepada Kita?

Sumber : akuislam.com 1. Hanafi mempunyai seorang rakan karib yang selalu meminjam barang – barang kepunyaannya dan tidak pernah mengembalikannya. Hanafi tidak berani meminta kembali barang – barang itu. “Jika saya berterus – terang, dia tentu akan tersinggung, sedangkan dia adalah kawan baik saya.” keluhnya 2. Di pejabat Johan mempunyai seorang teman yang pandai memujuk. Dia selalu meminta Johan membuat kerjanya. Johan tidak pernah menolak dan selalu memenuhi pujukan kawannya itu. Walaupun dia sedar kebaikannya telah dipergunakan oleh kawannya untuk kerja sambil lewa di pejabat. Bila ditanyakan kenapakah dia tidak berterus terang, Johan menjawab: “Saatnya belum tiba. Saya tidak berani” Daripada contoh diatas dapat kita simpulkan bahawa kebanyakkan orang dikalangan kita terpaksa mengorbankan kewibawaan atau haraga dirinya demi kesenangan orang lain. Mereka tidak pandai untuk mengatakan “tidak” dan oleh kerana itu mereka terus menderita dan memendam rasa. Orang Lain Tidak Menghormati Kita? Tidak semua orang dapat berubah. Jangan memberikan peluang kepada sesiapa pun sebelum orang itu memberikan alasan yang wajar. Jika kita telah memberikan peluang kepada mereka, maka mereka akan berfikir bahawa apa yang mereka lakukan itu adalah betul. Ini boleh menyebabkan “penyelewengan” yang berlanjutan. Pada tahap ini, kita kita telah dianggap sebagai orang yang lemah dan tidak lagi dihormati. Mereka tidak menghormati kita. Jangan meminta maaf ketika meminta sesuatu yang wajar. Contohnya, tiga jam selepas memaksa anaknya mengemas bilik, seorang ibu berkata: “Mak mintak maaf sebab suruh along kemaskan bilik.” Jangan! mereka harus menghormati kita sebagai ibu dan bila kita menyuruh membuat perkara betul, Jangan pindahkan tanggungjawab kita kepada orang lain. Contohnya: “Tadi bos kata suruh kau perlu…,” atau “Adik, ayah suruh adik ke kedai beli beras..”. Pernyataan seperti ini akan membuatkan kewibawaan kita akan hilang dan sekaligus menjadi seorang pembawa maklumat yang tidak dihargai. Kita hendaklah berusaha memasukkan unsur – unsur yang mantap dalam berkomunikasi. Berikut adalah perkara yang perlu dilakukan supaya orang lain menghormati diri kita: 1. BERTERUS TERANG Nyatakan perasaan dan harapan kita secara jelas. Orang yang pasif kerapkali beranggapan bahawa orang lain pasti ingin tahu apa yang diharapkannya, walaupun dia tidak memberitahunya. Perkara ini akan menimbulkan banyak masalah sebenarnya. 2. FIKIRKAN SEGALANYA DALAM – DALAM Berfikir dengan sedalam – dalamnya sebelum bertindak dalam sesuatu masalah. Dengan memikirkan terlebih dahulu segala – galanya secara matang, kita boleh menyelesaikan setiap masalah dengan lebih sempurna dan masuk akal. 3. HADAPI SETIAP PERSOALAN & MASALAH DENGAN SEGERA Jika kita cuba menghindarinya, kita akan menjadikan setiap masalah bertambah serius, sehingga semakin sukar untuk diselesaikan. Tetapi jika kita berani menghadapinya sejak dari awal lagi, segala masalah akan dapat diatasi. 4. KLASIFIKASIKAN MASALAH SECARA CERMAT Sering kali kita membuat sesuatu masalah itu seolah – olah masalah besar. Menghadapinya secara berlebihan, sehingga terjebak dalam kobaran emosi. Hadapilah setiap masalah dengan teliti, kita akan mampu untuk menguasai diri. Seterusnya dapat menyelesaikan masalah secara positif. 5. PISAHKAN KEMARAHAN DENGAN KETEGASAN Jika ketegasan kita dipenuhi sifat amarah, perkara ini adalah bukan menyelesaikan masalah. Malah boleh menyebabkan tugas atau kewajipan kita akan terbengkalai. Jika kita gagal bersifat tegas dalam keadaan yang tenang, kemungkinan besar reaksi kita adalah terlalu agresif. Dari sudut lain, jika kita marah, maka orang lain akan menunjukkan kecenderungan bersifat defensif (menolak). Akibatnya, masalah yang ada itu akan menjadi sukar untuk diselesaikan. Oleh itu, kita jangan terjerat oleh perasaan emosional yang berlebihan daripada orang lain terhadap apa yang kita katakan, agar kita tidak mudah untuk naik angin. Ketegasan dalam ketegangan amat berkesan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap kita. 6. MANFAATKAN KAWASAN KEKUASAAN KITA Pasukan bola sepak sering menang di gelanggang sendiri. Begitu jugalah dengan ketegasan. Memang sukar untuk menghadapi seorang rakan bila sedang berada di rumah atau pejabatnya. Oleh kerana itu, berusahalah untuk tegas di kawasan kekuasaan kita sekiranya keadaan memungkinkan. Ia memberikan suatu keuntungan yang tidak ketara tetapi mantap. 7. JANGAN BERPURA – PURA MENGGERTAK Budak kecik sekali pun tahu jika kita hanya berpura – pura menggertaknya. Untuk menegakkan kepercayaan orang terhadap kita, nyatakan hujah – hujah yang masuk akal serta akibat – akibat yang akan terjadi jika semua itu tidak dilakukan. Nyatakan pernyataan kita itu dengan serius dan bersungguh – sungguh. Orang lain akan menghormati kita jika mereka yakin kita serius. Kita juga akan lebih disukai jika sanggup berkorban, namun dalam hal ini tiada maknanya jika kita dipergunakan. *** # Hormat dan menghormati adalah penting dalam kehidupan kita. Anda pernah mengalami situasi ini dan ada cara lain untuk ditambah sebagai penyelesaian masalah ini?

Mencari Kebahagian Hakiki?

dakwatuna.com – Alasan setiap manusia menuntut ilmu setinggi-tingginya baik dengan pendidikan formal di sekolah atau pelatihan-pelatihan, bekerja siang dan malam membanting tulang tanpa kenal lelah, mulai dari Pak Petani di sawah dan ladang sampai ke Pak Presiden di istana megah nan menjulang, adalah karena satu dorongan yaitu demi meraih kebahagiaan. Namun, mengapa kebahagiaan itu tak jua kunjung didapat? Mengapa hidup ini tetap saja terasa ruwet, sumpek, tidak bahagia walau kekayaan sudah ditangan, jabatan tinggi sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh. Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka, para pencari kebahagiaan, tak terkecuali diri saya sendiri, agar dapat kembali mengingat apa hakikat sebenarnya dari usaha mencari kebahagiaan ini Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti kata kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup yang bersifat lahir dan batin. Demi meraih kebahagiaan ini, manusia rela melakukan apa saja walau sampai harus melukai dirinya sendiri. Permasalahannya, kadang kita keliru dalam memahami konsep kebahagiaan yang akibatnya membuat kita keliru pula dalam cara mewujudkannya. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa kebahagiaan itu bersumber dari tiga hal yaitu; kekayaan, popularitas, dan kekuasaan. Sebut saja seorang ayah yang sedang menasehati anaknya untuk rajin belajar di sekolah. Sudah tidak asing lagi rasanya ditelinga kita bahwa sang Ayah akan berkata, “rajin-rajin lah belajar di sekolah ya nak, agar kamu jadi orang pinter, kalo kamu pinter kamu bisa bekerja di tempat yang bagus, jadi kamu bisa punya uang yang banyak, bisa punya rumah yang bagus, bisa hidup layak dihargai dan dikenal masyarakat, dan tentu suatu saat bisa juga membantu orang-orang yang lemah”. Sekilas, memang tidak ada yang salah pada kalimat sang ayah, bahkan mungkin terdengar mulia, karena sang ayah mendidik si anak agar menjadi orang yang dermawan. Namun, apakah kalau tidak bisa jadi orang kaya, lantas semua kebahagiaan itu akan sirna? Lalu bagaimana dengan nasib orang yang terlahir dengan kondisi tidak sempurna, seperti cacat tidak memiliki kaki atau tangan, sehingga tidak mampu melakukan apa-apa selain meminta pertolongan; atau bagaimana dengan nasib orang yang lahir dari keluarga miskin seperti dibelahan dunia Afrika sana? Jangankan memikirkan pendidikan, memikirkan masalah makanan untuk esok hari saja amatlah sulit. Apakah kebahagiaan hanya untuk mereka yang kebetulan bernasib baik lahir dengan kondisi sehat dan serba lengkap? Atau kebahagiaan hanya milik mereka yang sukses mendapatkan harta berlimpah, terkenal, dan punya jabatan penting? Dimanakah letak keadilan Tuhan? Kesalahan dalam memahami konsep kebahagiaan dapat berakibat sangat fatal. Contohnya, fenomena yang terjadi di Jepang. Jepang dikenal dengan negara super power dalam hal kekuatan ekonomi, teknologi, maupun karakter manusianya yang sangat santun, taat aturan, pekerja keras, jujur, dan juga sangat ramah. Namun disisi lain, Jepang juga sangat terkenal sebagai negara yang sangat tinggi angka bunuh dirinya. Pihak kepolisian Jepang mencatat kasus bunuh diri di Jepang mencapai sekitar 33 ribu orang pada tahun 2009 atau sekitar 100 orang setiap harinya. Bayangkan! ada 100 orang setiap hari bunuh diri di Jepang. Celakanya, fenomena bunuh diri ini berada pada urutan tertinggi dari penyebab kematian di Jepang untuk orang yang berumur antara 20-39 tahun, yaitu umur produktif dalam bekerja. Lembaga-lembaga penelitian masyarakat mengungkapkan bahwa penyebab utama dari tingginya angka bunuh diri ini adalah karena depresi mental akibat tekanan ekonomi dan sosial. Sungguh paradoks rasanya mengingat Jepang sebuah negara yang kaya, dengan penduduknya yang rata-rata berpendidikan tinggi, fasilitas pemenuh kebutuhan dan kesehatan tersedia dengan lengkap, namun tetap saja masyarakatnya tidak juga dapat memperoleh kebahagiaan; sehingga memilih mati bunuh diri karena putus asa menjalani pahitnya kehidupan. — Dalam upaya meraih kebahagiaan, sering kali kita keliru dalam membedakan mana kesenangan dan mana kebahagiaan. Hal ini mengakibatkan kita terjebak pada kesenangan yang tidak membawa pada kebahagiaan. Untuk itu kita harus dapat membedakan dengan baik antara kesenangan dan kebahagiaan. Menurut ilmu kedokteran, kesenangan adalah aktifitas yang dapat diamati secara fisik pada otak manusia yang terjadi akibat dirangsangnya saraf “pusat kesenangan” atau “pleasure center”. Saraf yang dirangsang ini akan menghasilkan mekanisme hormonal, yaitu keluarnya suatu zat kimia dari neuron di otak yang mengakibatkan timbulnya rasa enak, senang, dan nikmat. Jadi, untuk memperoleh rasa senang, mudah saja caranya, yaitu dengan merangsang saraf pusat kesenangan ini, misalnya dengan obat-obatan tanpa perlu bekerja atau bersusah payah. Sayangnya hal ini tidak dapat bertahan lama. Sementara kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lama, tidak sementara, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Kegagalan dalam membedakan makna kesenangan dan kebahagiaan membuat kita sering kali terfokus pada pemenuhan kesenangan, bukan kebahagiaan itu sendiri. Tidak semua kesenangan membawa kebahagiaan. Sudah sering kita temukan fakta-fakta bahwa orang-orang yang secara umum dianggap bahagia, malah tidak merasa bahagia. Contohnya artis-artis terkenal yang malah stres karena tidak memiliki kehidupan pribadi yang normal akibat ketenarannya sendiri, seorang politikus yang malah menjadi sakit jiwa karena bangkrut akibat kalah kampanye, atau seorang konglomerat kaya raya yang merasa depresi tidak bahagia karena keluarganya berantakan kurang perhatian dan kasih sayang. Lebih parahnya lagi, pemenuhan kesenangan untuk mencapai kebahagiaan ini justru yang alih-alih menjadi salah satu penyebab utama rusaknya moral masyarakat, sehingga terjadi masalah kecanduan obat-obat terlarang, miras, penyakit sex karena gaya hidup bebas, pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, dan tindakan kriminal lain yang dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan, padahal yang diperoleh hanya kesenangan sementara. Allah SWT berfirman pada Al-Qur’an surat Thaahaa ayat 124; “dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Q.S.Thaahaa (20) : 124) Rekan-rekan pencari kebahagiaan, pada surat Thaahaa diatas sebenarnya Sang Pencipta telah dengan jelas memberikan jawaban atas sumber dari semua permasalahan kebahagiaan. Allah SWT mengungkapkan rahasia penting bahwa pengabaian kita terhadap aturan-aturan dan peringatan-Nya akan mengakibatkan setidaknya dua bencana besar. Yang pertama adalah kehidupan dunia yang sempit. Hidup dirundung banyak masalah, silih berganti dari satu masalah ke masalah yang lain. Hidup terasa sumpek, stres, ruwet, dan tidak kunjung bahagia padahal harta dan kekayaan sudah ditangan, jabatan penting sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh. Yang Kedua adalah yang paling parah, yaitu sudah lah tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia, di akhirat pun sudah pasti akan mendapat siksa. Kita akan dikumpulkan dan diazab serta dibuat buta diakhirat nanti. Naudzubillah min dzalik. Lalu apa yang harus kita lakukan agar dapat memperoleh kebahagian hidup? Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S.An-Nahl (16) : 97). Sudah sangat tegas penjelasan Allah SWT pada surat An-Nahl ayat 97 ini bahwa satu-satunya cara memperoleh kebahagiaan atau kehidupan yang baik itu adalah dengan mengerjakan amal-amal sholeh; yaitu taat pada seluruh aturan-Nya dan menjalankan segala perintah serta larangan-Nya. Inilah konsep kebahagiaan yang hakiki; yaitu tujuan hidup kita di dunia ini, baik itu dalam belajar, bekerja, ataupun berusaha, hanya satu saja “mendapatkan ridho Allah SWT”. Kekayaan, popularitas dan kekuasaan tidak lagi menjadi tujuan utama; sehingga terlepas apakah sebuah usaha kita berhasil atau gagal, kita akan tetap merasa bahagia karena tujuan utama kita dalam berusaha adalah mendapatkan ridho Allah SWT, bukan kekayaan, popularitas, ataupun jabatan semata. Seberat apapun cobaan, kesulitan, dan penderitaan yang dirasakan, akan dapat dilalui dengan ikhlas, mudah, dan hati lapang; karena kita yakin Allah SWT akan membalas semua usaha itu dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Ini lah yang dimaksud dengan kehidupan yang baik pada surat An-Nahl (16) : 97 diatas, yaitu tercapainya kebahagiaan hakiki. Hidup jadi terasa ringan, mudah, simple, penuh makna, tidak sia-sia, dan tanpa beban, karena kunci kebahagiaan adalah bukan pada hasil tetapi pada cara mewujudkannya. Hati akan senantiasa ikhlas menerima apapun ketentuan Tuhan, karena yakin bahwa itu lah hasil terbaik yang diberikan Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan konsep kebahagiaan hakiki ini, masalah ketidakadilan Tuhan yang saya kemukakan diawal tulisan ini dapat dengan mudah dipecahkan. Walaupun seorang manusia dilahirkan dengan kondisi cacat dan dari keluarga miskin sekalipun, atau semua usaha yang dilakukan berujung pada kegagalan dan penderitaan sekalipun, semua itu tidak akan membuatnya tidak bahagia dan putus asa apalagi sampai bunuh diri. Karena, sekali lagi, kebahagiaan hakiki diperoleh ketika ia berhasil mendapatkan ganjaran pahala atas apa yang diusahakannya; yaitu usaha yang dilakukan dengan dasar aturan-aturan yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai tambahan, dengan dilengkapi pemahaman yang baik dalam membedakan kesenangan dan kebahagiaan, kita jadi lebih pandai memilih kesenangan apa yang boleh dan baik untuk kita, sehingga pada akhirnya benar-benar tercapai kebahagiaan yang hakiki. Akhirnya, agar kita selalu menjadi orang yang sukses, beruntung, bahagia, dan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT, izinkan saya menutup tulisan ini dengan mensitir Surat Al-Baqarah (1) ayat 2-5 yang artinya; “Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan Mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan Mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Karena itu, jadilah orang yang bertakwa jika ingin bahagia! *Farid Triawan adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh program Doktor di Tokyo Institute of Technology, Jepang. Email: (farid.triawan@gmail.com)

Isnin, 15 Mei 2017

Presiden Perancis 2017 Berusia 39 Tahun

Sumber : Astro Awani. PARIS: Emmanuel Macron mengangkat sumpah jawatan presiden hari ini bagi menerajui Perancis selama lima tahun bagi penggal akan datang. Majlis angkat sumpah berlangsung di Istana Elysee, kediaman rasmi presiden Perancis sejak tahun 1848. Macron menggantikan Francois Hollade yang tamat tempoh penggal pemerintahan. Beliau akan menamakan siapa Perdana Menteri Perancis pada Isnin manakala Kabinet pula akan dibentuk sehari kemudian. Macron menjadi pemimpin paling muda mentadbir Perancis sejak era Napoleon, beliau berusia 39 tahun. Sebelum ini, pada pilihan raya 7 Mei lepas, Macron menewaskan calon pilihan Marine Le Pen dengan 66 peratus undi untuk muncul sebagai Presiden Perancis selepas Hollande. Beliau menerajui pergerakan La République En Marche yang hanya dibentuk tahun lepas. Bagaimanapun, barisan calonnya akan mengisi kesemua 577 kerusi dalam pilihan raya Parlimen bulan depan.

Ahad, 14 Ogos 2016

Pengajaran Kekalahan Perang Uhud Akibat Melanggar Perintah Rasul

perang
Perang Uhud Hikmah Perang Uhud Hikmah Dari Perang Uhud Sejarah Perang Uhud Perang Uhud Pdf
Jika saya bertanya kepada anda, “siapakah yang menang pada perang Uhud?”. Tentu tanpa keraguan anda akan menjawab, “Kaum musyrikin”. Sederet alasan dan bukti diajukan :
  1. Jumlah kaum muslimin yang meninggal lebih banyak
  2. Banyak dari para pahlawan Islam mati syahid, seperti Hamzah dan Mush’ab bin ‘Umair radiyallahu anhuma.
  3. Kaum muslimin meninggalkan medan perang, dan mundur ke arah gunung.
  4. Dan sederet alasan lain.
Saya katakan, “Engkau benar, pada saat itu kaum muslimin yang menderita kekalahan, kalau kita melihat dari sisi sudut pandang kerugian saat perang. Tapi kalau kita lihat dari nilai yang kaum muslimin pelajari dari perang Uhud, saya dengan percaya diri mengatakan, kaum Muslimin yang menang ketika Perang Uhud“.
Penjelasannya :
Ketika kaum muslimin Merasakan pahitnya kekalahan pada perang Uhud, mereka pun menyadari apa sebab kekalahan itu, dan dengan apa mereka akan meraih kemenangan. Sebelum perang Uhud, waktu itu sabtu pagi, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewanti-wanti agar pasukan pemanah yang berada di bukit Rumah (nama aslinya bukit ‘Ainain) agar tetap berada ditempatnya, walaupun kaum muslimin telah meraih kemenangan atau ditimpa kekalahan.
Api peperangan menyala, pedang menyambar, anak panah meleset keluar dari busurnya, tombak dihujamkan, banyak nyawa yang melayang, kaum muslimin menyerang, maju dengan penuh kepahlawan sebagai ksatria, kemenanganpun telah menampakkan senyumnya, kaum musyrikin lari meninggalkan medan perang penuh ketakutan.
Saat itu, diatas bukit Rumah pasukan pemanah mulai berselisih, kebanyakan mereka berkata, “Kita telah menang, ayo kita turun untuk bersama saudara-saudara kita“.
Pimpinan pasukan Abdullah bin Jubair radiyallahu’anhu mengingatkan, “Tetaplah berada ditempat kalian, karena Rasulullah memerintahkan agar kita tetap berada diatas bukit, dalam keadaan kita menang ataupun kita kalah“.
Perintah Rasulullah itu adalah dalam keadaan perang, sekarang perang telah selesai dan musuh telah melarikan diri“, mereka beralasan. Kemudian 40 orang dari 50 orang pasukan pemanah turun dari bukit Rummah.
Pimpinan pasukan berkuda kaum musyrikin Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) melihat kebanyakan pasukan pemanah telah meninggalkan tempatnya, maka ia dengan sigap menyerang pasukan kaum Muslimin dari belakang. Sisa pasukan pemanah yang berada diatas bukit yang bertugas untuk melindungi bagian belakang kaum muslimin tidak dapat menghadapi pasukan berkuda kaum musyrikin.
Keadaan pun berbalik, cahaya kemenangan yang mulai nampak kembali bersembunyi, kekalahan akhirnya dirasa, luka jasmani dan pahitnya kekalahan mereka teguk dengan begitu berat.
Namun mereka sadar, akan sebab kekalahan: melanggar satu perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Mereka akan mendapatkan kunci kemenangan dan pertolongan Allah Ta’alaadalah dengan menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebab kekalahan telah diketahui, kunci kemenangan di tangan. Maka setelah perang Uhud kaum Muslimin selalu meraih kemenangan.

Pelajaran dari kemenangan di masa khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq

Setelah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam wafat, kesedihan melanda. Bahkan kekacauan terjadi pada kekhalifahan Islam yang baru berdiri, muncul Nabi-Nabi palsu, banyak kabilah Arab yang tidak mau membayar zakat, keamanan kota Madinah ibu kota Negara Islam terancam. Saat itu Abu Bakar radiyallahu’anhu sebagai Khalifah memerintahkan agar pasukan Usamah bin Zaid radiyallahu’anhu segera diberangkatkan. Pasukan yang dibentuk oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk memerangi kabilah-kabilah Arab di daerah perbatasan dengan negeri Syam, kabilah-kabilah Arab yang telah memerangi kaum muslimin bersama dengan tentara Romawi.
Banyak dari sahabat tidak menyetujui keputusan Abu Bakar radiyallahu’anhu. Madinah sedang terancam dari serangan musuh, pasukan Usamah sebaiknya untuk memperkuat pertahanan kota Madinah. Sebagian lagi berpendapat, kalaupun pasukan Usamah memang terpaksa diberangkatkan, maka panglimanya diganti, karena Usamah masih terlalu muda untuk memimpin sebuah pasukan.
Abu Bakar radiyallahu’anhu telah mengetahui rahasia kemenangan, yang banyak dari sahabat lalai darinya karena beban musibah kematian Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam terasa sangat berat. Dengan tegas ia mengatakan, “Aku akan tetap memberangkat pasukan Usamah, walaupun aku harus pergi seorang diri“. Ia berkata, “Apakah aku mengganti sebuah bendera (sebuah pasukan), yang telah dikibarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?
Apa yang terjadi?
Pasukan Usamah meraih kemenangan, dengan sebab itu banyak kabilah Arab akhirnya tunduk pada Khalifah kaum muslimin, karena mereka mengetahui bahwa Khalifah kaum muslimin tidak mungkin mengirim pasukan keluar Madinah, kecuali mereka memiliki pertahanan yang kuat untuk membela kota Madinah.
Kita ingin meraih kemenangan dan kejayaan kembali bagi Umat Islam? Ingat perang Uhud, ingat Abu Bakar dan pasukan Usamah. Lalu kita lihat diri kita, dimanakah sunnah Rasulullahshalallahu alaihi wasallam berada ? Dan dimanakah kita bertempat ?
Mengikut jalan Sunnah adalah kemenagan.
Penulis: Ust. Muhammad Sanusin, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id


Sumber: https://muslim.or.id/22234-mengambil-pelajaran-dari-perang-uhud.html

Isnin, 27 Jun 2016

Kisah Nabi Muhammad & Pengemis Yahudi Yang Buta



Sumber : Youtube



Di dalam kisah yang penuh pengajaran dan hikmah ini sangat jelas menunjukkan bahawa untuk tujuan dakwah, wang zakat juga boleh digunakan untuk diberi manfaat kepada bukan muslim yang layak menerimanya.


Antara golongan-golongan yang layak menerimanya telah diterangkan dalam surah At-Taubah, Ayat 60 di bawah.


GURU MURSYID TAREKAT NAQSHABANDI KE-2 : SALMAN AL-FARISI

  1. Sumber asal :   http://www.irfankhairi.com

Salman Al-Farisi merupakan salah seorang sahabat karib junjungan besar kita Nabi Muhammad s.a.w.  Beliau adalah seorang tokoh yang sangat menyerlah daya kepimpinannya dan amat disayangi oleh Rasulullah s.a.w. lantaran keberanian, keikhlasan serta sifat zuhudnya terhadap kemewahan dan kehidupan duniawi.

Salman Al-Farisi



Nama penuh Salman Al-Farisi ialah Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani. Beliau berasal  daripada keluarga Zoroastrian yang begitu dihormati  dan disegani dari sebuah desa, iaitu Jayyan yang terletak berhampiran Kota Isfahan, Persia (Parsi). Bapanya adalah seorang  Dihqan (Ketua Kampung) dan juga merupakan orang terkaya yang memiliki rumah terbesar dan juga  kebun kurma yang sangat luas dan banyak hasilnya. Beliau amat disayangi oleh bapanya sehingga beliau telah ditempatkan di sebuah kuil agama Majusi sebagai  penjaga  api.

Pencarian yang panjang
Namun begitu, Salman tetap tidak merasa tenang dan aman dengan agama yang dianutinya sehingga berlaku pergolakkan jiwa  dalam dirinya, lantas mendorong beliau untuk mencari agama baru yang lebih baik dan boleh mendamaikan jiwanya. Dengan hidayah Allah SWT, beliau meneruskan pencarian dan pengembaraannya untuk mencari agama baru yang lebih baik dan menepati kehendak hatinya. Kisah perjalanan kehidupan Salman Al-Farisi untuk mendapatkan hidayah Allah SWT amatlah panjang.

Sebelum memeluk Islam, beliau asalnya adalah  seorang yang beragama Majusi, berbangsa Parsi dan kemudian memeluk agama Nasrani. Beliau sanggup pergi ke negeri  Syam dan kemudian ke Yathrib dan seterusnya ke Madinah, semata-mata untuk mencari kebenaran dalam agamanya. Sewaktu mula-mula  beliau memeluk agama Islam, beliau adalah seorang hamba, namun demikian Rasulullah s.a.w. telah menganjurkan kepada para sahabat supaya memerdekakannya.
Salman Al-Farisi sangat terkenal sebagai seorang mukmin yang kuat beribadat, bersifat rendah diri dan tiada langsung tertarik dengan kehidupan dan kemewahan duniawi. Beliau amat terkenal dengan sifat taqwa dan zuhudnya. Beliau juga merupakan seorang tokoh sahabat nabi yang banyak meriwayatkan hadis-hadis  daripada Rasulullah s.a.w. kerana beliau adalah salah seorang sahabat yang banyak bergaul dengan baginda Rasulullah  s.a.w.  sendiri.
Pernah suatu ketika juga beliau  tinggal serumah, bersama dengan Abu  Darda’ yang terkenal sebagai seorang ahli sufi, yang mempunyai kebiasaan melakukan ibadah pada waktu malam dan shaum diwaktu siang. Oleh yang demikian Salman telah melarangnya dari keterlaluan beribadah seperti itu lantas menegur Abu Darda’ dengan penuh hikmah dan lemah lembut.
“Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu, Di samping engkau shaum, berbukalah dan di samping melakukan solat tidurlah.”
Peristiwa ini  telah sampai  ke pendengaran Rasulullah s.a.w. maka baginda pun bersabda :
“Sungguh, Salman telah dipenuhi dengan ilmu.”
Sepanjang hayatnya, Salman Al-Farisi sempat menjalani kehidupan bermula daripada  zaman Rasulullah s.a.w. sehinggalah kepada zaman pemerintahan Saidina Uthman bin Affan, iaitu khalifah Islam yang ketiga. Baginda Rasulullah s.a.w. sering memuji-muji Salman Al-Farisi lantaran kecerdasan dan ketinggian ilmu yang dimilikinya, sebagaimana beliau memuji agama dan budi pekerti serta akhlaknya yang luhur,  ketika orang Anshar dan Muhajirin ingin mendapatkannya.
Rasulullah s.a.w. pun bersabda : “Salman adalah golongan kami, Ahlul Bait.”Demikianlah betapa kasihnya Rasulullah  s.a.w.  kepada Salman Al-Farisi.

Sara hidup dengan menganyam daun-daun kurma
Salman Al-Farisi, merupakan seorang gabenor di Al-Madain yang terletak berhampiran dengan Kota Baghdad. Selain itu beliau juga adalah seorang amir.
Meskipun beliau adalah seorang gabenor dan seorang amir yang terjamin kehidupan dan pendapatannya, namun beliau tetap berusaha gigih dan bekerja sendiri untuk menguruskan serta mengawasi kebun kurmanya bagi menyara hidup keluarganya.
Salman Al-Farisi sanggup mengambil upah meraut dan menganyam daun-daun kurma untuk dijadikan tikar, bakul dan beg sebagai sumber pendapatan beliau untuk  menyara keluarganya. Beliau membelinya dengan harga 1 dirham dan dijualnya kembali dengan harga 3 dirham. Hasil pendapatan daripada  jualannya itu telah dibahagikan kepada tiga bahagian, iaitu 1 dirham digunakan untuk pusingan modal, 1 dirham digunakan untuk bersedekah dan 1 dirham lagi digunakan untuk dinafkahkan kepada keluarganya. Di sini jelas menunjukkan betapa Salman Al-Farisi tidak sekali-kali menggunakan kuasa dan amanah yang dimandatkan kepadanya untuk kepentingan diri sendiri dan keluarganya. Inilah ciri-ciri seorang pemimpin dan ketua yang amat kita sanjungi yang sukar ditemui pada masa kini.
Sebagai seorang gabenor negara, sudah pastilah beliau mendapat  insentif sebanyak 5000 dirham, tetapi kesemua wang tersebut telah diinfakkannya ke jalan Allah dan tidak ada satu dirham pun yang diambilnya untuk keperluan diri. Beliau sanggup menolak untuk tidak menerima wang gajinya sebagai seorang gabenor negara. Demikianlah pengorbanan besar yang dilakukan oleh Salman Al-Farisi yang begitu zuhud serta berpegang  teguh dengan  agamanya iaitu Islam.

Sumbangan dan jasa Salman Al-Farisi.
sumbangan
Sepanjang baliau bersama-sama dengan Rasulullah s.a.w. beliau tidak pernah sekalipun menyertai peperangan kecuali peperangan khandak yang merupakan peperangan pertama yang telah disertai olehnya. Bermula daripada detik  itulah beliau tidak akan melepaskan peluang yang ada untuk turut serta dengan Rasulullah s.a.w. di dalam peperangan-peperangan  yang lain sebagai jihad dan perjuangannya menegakkan Islam.
Ketika  berlakunya peperangan khandak yang diketuai oleh Rasulullah s.a.w. bersama dengan tentera  Islam yang hanya berjumlah 3,000 orang, sedangkan pihak musuh pula terdiri daripada 10,000 orang maka, Salman Al-Farisi pun mencadangkan kepada Nabi agar kaum muslimin menggali parit di sekeliling Kota Madinah sebagai satu strategi  utama, untuk menewaskan musuh-musuh Islam yang pada ketika itu tentera Islam telah diancam oleh tentera Musyrikin Mekah serta kaum yahudi yang laknat. Salman Al-Farisi menyuarakan pendapatnya kepada Rasulullah s.a.w. dan dengan persetujuan Rasulullah s.a.w. maka kerja-kerja pembinaan parit tersebut telah berjaya dilakukan dan dapat disiapkan dalam tempoh enam hari sahaja.
Berkat  cadangan itu jugalah maka tentera Islam telah berjaya bertahan daripada dalam Kota Madinah.  Madinah akhirnya terselamat daripada jatuh ke tangan musuh-musuh Islam dan umat Islam telah mendapat kemenangan besar di dalam peperangan khandak. Alangkah hebatnya Salman Al-Farisi menggunakan kepakaran yang ada pada dirinya, untuk menewaskan musuh Islam dengan kejutan yang telah dilakukannya.

TERBARU : RAHSIA DISEBALIK KASYAF AHLI SUFI


Gambar sekadar hiasan


Oleh : Hamba Allah

Bagi pengamal Tarekat, lebih-lebih lagi yang sudah pernah suluk (iktikaf), rasanya tidak asing mendengar perkataan Kasyaf atau pengucapan mudahnya menjadi “Kasyaf”. Kalau ada teman seperguruan yang boleh meneka isi hati orang lain atau mengetahui hal-hal yang belum terjadi kemudian kita menamakannya dengan kasyaf. Kita semua sepakat bahawa seorang yang kasyaf adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk mengetahui hal-hal ghaib samada tentang dirinya mahupun diluar dirinya, yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Akan tetapi pada umumnya kita tidak terlalu fokus tentang makna kasyaf yang sebenarnya.

Guru Besar IAIN Raden Patah Palembang dalam bukunya “Tasawuf dan Tarekat Naqshabandi” mengatakan bahawa Ilmu Kasyaf adalah ilmu yang diperolehi dengan terbukanya hijab (dinding atau tabir), sehingga hati nurani manusia mengetahui rahsia Ilahi, alam ghaib sebagai rahmat daripada Allah SWT, setelah dekatnya yang bersangkutan dengan Allah.

Menurut bahasa, kasyaf bererti terbuka atau tidak tertutup. Ilmu Kasyaf itu berpusat di hati sanubari manusia yang berada di dalam dada.


Muhammad Solikhin dalam buku “Ajaran Makrifat Syeikh Siti Jenar” mengatakan bahawa kasyaf adalah penyingkapan atau ilham, atau pengetahuan langsung daripada Allah setelah seorang sufi berhasil melampaui tahap dzauq. Kasyaf merupakan salah satu jenis pengetahuan langsung, yang dengan itu pengetahuan tentang Hakikat diungkapkan pada hati seorang sufi dan kekasih yang mencintai Allah.




Dalam dunia sufi, terdapat lima jenis penyingkapan yang sering terjadi pada para sufi :

  1. Kasyaf ‘aqli; Penyingkapan melalui akal. Ini merupakan tingkatan pengetahuan intuitif yang paling rendah. Allah tidak boleh diketahui dan dicintai melalui akal (al-‘agl), kerana akal membelenggu dan menghalangi manusia dalam tahap akhir kenaikan menuju Allah. Akal mempunyai dimensi rendah tentu saja tidak akan bisa menjaungkau Zat yang Tidak Terhingga yag mempunyai dimensi sangat tinggi. Sesiapapun yang mencari Allah melalui akal tidak akan boleh menemukan Hakikat Allah yang sebenarnya. : “Bumi dan langit-Ku tidak sanggup memuatkan-Ku, hanyalah hati hamba-Ku yang lembut lagi tenang yang sanggup memuatkan-Ku”
  2. Kasyaf arwah. Adalah bentuk penyingkapan roh-roh. Diawali tentang pengetahuan atas roh diri sendiri, kemudian tentang roh-roh manusia dan makhluk lain, lalu meningkat ke roh dalam seluruh dimensi “alam al-ghaib. Puncak pada pengetahuan langsung ruh al-idhafi, dan diarahkan kepada al-Roh al-Haqq.
  3. Kasyaf Bashari atau  juga kasyaf kauni. Merupakan penyingkapan pada tataran makhluk. Penyingkapan visual yang terjadi melalui penciptaan yang dilakukan Allah. Dalam suatu peristiwa (tempat, tindakan, atau ucapan manusia) seorang yang suci boleh menjadi tempat bagi penyingkapan visual ini. Allah adalah Yang Maha Mutlak. Dia adalah Keindahan (Jamal) dan Keagungan (Jalal). Melalui makhlukNya, Allah boleh mengungkapkan diri-Nya pada hamba-Nya melalui salah satu Nama Keindahan-Nya yang akan menimbulkan kemanisan dan kesenangan atau melalui salah satu Nama Keagungan-Nya yang akan melahirkan ketakziman dan ketakutan. Disinilah peranan al-asma’ al-husna atau al-asma’ al-nabi sangat strategik untuk menghantarkan dan membawa seorang sufi ke dalam samudera penghayatan rohaniah.
  4. Kasyaf Imani. Penyingkapan melalui keimanan. Penyingkapan ini terjadi melalui ketulusan iman seorang mukmin. Kadar intensiti penyingkapan ini boleh berfungsi sebagai pemangkin yang mengaktifkan sang Mukmin untuk lebih banyak lagi mencari dan pengetahuan spritual.
  5. Kasyaf al-Ilahi. Penyingkapan Ilahi. Penyingkapan ini merupakan buah manis dari ibadah terus-menerus dan menghiasi hati dengan mengingat Allah (zikir Allah). Prosesnya boleh melalui zikir, wirid, atau mujahadah dan yang sejenis dengannya. Penyingkapan Ilahi ini boleh terjadi secara langsung di dalam hati, tanpa bantuan visual apapun, yakni ketika keindahan Allah masuk ke dalam hati seorang sufi dan pecinta-Nya. Ini juga boleh terjadi dengan bantuan visual berupa lokus tertentu bagi Cahaya Ilahi, seperti dengan sarana wushuliyah seorang Guru Sufi (Mursyid).    Dibimbing oleh Guru Rohani yang dinamakan sebagai Mursyid dalam 
  6. melakukan amalan zikir khusus secara terus-menerus di dalam hati ibarat menyambungkan elektrik ke pusat sumber elektrik sehingga elektrik boleh mengalir dengan sempurna dan boleh digunakan untuk apa saja. Ia juga ibarat menyambungkan sebatang paip agar air boleh mengalir daripada sumber utamanya dan boleh digunakan mengikut keperluan. 




Ilmu Kasyaf, Ilmu Laduni dan kemampuan ghaib adalah ilmu yang dimiliki oleh orang yang dekat dengan Allah. Kalau kita membuka cacatan sejarah akan kita jumpai banyak sekali kekeramatan yang dimiliki oleh Para Wali Allah dan juga Ulama yang dekat dengan-Nya. Syeikh Abdul Qadir Jailani, Syekh Abu Yazid Al Bisthami, Rabi’ah Al Adawiyah, Junaidi Al-Baghdadi, Abu Said Al-Kharaj, Imam AL-Ghazali  adalah orang-orang yang mempunyai kekeramatan dan dicatat dalam sejarah Islam. Kemampuan mereka bukan untuk ditampilkan dengan penuh kesombongan akan tetapi semata-mata sebagai bahan dakwah untuk menambah keimanan orang.


Bagi kaum Sufi, kadang-kadang mereka tidak pernah tahu tentang definisi dan tingkatan kasyaf akan tetapi mereka sudah berada di alam kasyaf dan itu jauh lebih baik dari pada menghafal definisi dan pembahagian kasyaf namun tidak pernah sampai kepada alam kasyaf.




 Sebuah pesan diantara Sembilan Pesan Penting yang selalu dibacakan disaat penutupan suluk sebagai peringatan kita semua agar selalu berhati-hati dan terus bermujahadah tanpa henti.


Jika engkau diperintahkan mengamalkan satu khatam, maka amalkanlah sekurang-kurangnya satu khatam, jika engkau diperintahkan mengamalkan sekali duduk maka amalkanlah sekurang-kurangnya sekali duduk. Jika engkau patuhi semuanya maka akan bertambah-tambah akan kasyaf mu dan jika engkau tidak kerjakan perkara itu maka lambat-laun akan hilanglah semuanya walaupun engkau seorang Ahli Kasyaf

Ahad, 19 Jun 2016

Memusuhi Wali, Maka Perang Terhadap Mereka

Sumber : tarekataulia. blogspot.my Memusuhi Wali, Maka Allah Mengumumkan Perang Kepadanya

Firman Allâh Azza wa Jalla
 مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
 ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya.”



عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”